Sambal Setan Kehidupan Malam Bu Mut

Sambal Setan Bu Mut

Sambal Setan Bu Mut

Yups, berawal dari kekepoan. Jadi saat saya sedang melintas di jalan dari Tanah Abang menuju Petamburan kemarin malam, saya melihat di pinggir jalan sebelah kanan ada ramai orang sedang berkumpul. Sekilas sih sudah tau, itu rumah makan. Cuma pertanyaannya, kok bisa sebegitu ramainya?

Tidak hanya motor yang pakir, tapi juga ada 4 mobil yang sedang parkir. Sejauh ini lihat keramaian tempat makan di pinggir jalan cuma di ketupat sayur yang beroperasi tiap malam di daerah Buncit, tapi tidak seramai ini. Juga Pecel Ayam di depan Polsek Ciputat. Rasa kekepoan itu pun semakin menuju puncaknya, dengan saya memutuskan untuk putar balik! Sesampainya di depan lokasi, saya gak langsung turun. Saya pandangi dulu (memandangmu: asyik) ini jenis tempat makan apa. Dan setelah jelas, ini tempat makan sejenis Pecel Ayam & Lele dengan nilai tambah slogan sambal setan Bu Mut.

Sampai di situ saya tidak langsung turun. Hingga tukang parkir nanya: “Mas mau makan?” saya pun tersadar dari pengamatan (lamunan) dan akhirnya saya parkirkan motor saya. Saat masuk teman saya berpikir warung ini ramai karena lokasi tepat di bawah rusun, jadi penghuninya makan di sini semua, bukan hal lain yang bikin ramai. Saya pengen membuktikan dengan masuk ke dalam, dam terjadilah suatu masalah yang baru pertama kali terjadi dalam dunia permakanan saya.

Antrinya, lebih tepatnya rusuhnya, ini bukan main-main. Bukan main ramai dan bukan main bingungnya. Bingung? Karena tidak jelas siapa yang akan melayani, berhubung semua pelayannya udah sibuk. Seorang wanita yang udah kehilangan kesabaran pun bertanya dengan nada yang cukup melas: “Mas, saya mau pesan makan, untuk makan di sini, yang berwenang melayani siapa ya?” apakah pertanyaan itu dijawab? Tidak! pelayanan itu diam saja sambil nerusin kesibukannya: nyentongin nasi, bungkusin nasi, menggoreng, ngulek sambel, dan membawa pesanan untuk yang udah mengantri duduk. Saya pikir ikut-ikutan berkeruman gitu pun ga bakal diladenin, saya putuskan untuk mencari tempat duduk dulu.

Eh, ternyata. Tempat duduk pun udah penuh, sekalinya ada yang udah selesai makan, langsung diserobot sama yang udah lebih dulu nunggu orang itu selesai makan. Nah di sini tantangannya, bingung memesan dan gak ada tempat duduk. Hanya untuk makan. Gila! Anyway, akhirnya ada 2 orang selesai makan di dekat saya berdiri. Saya pun meminta tolong teman saya utk menduduki tempat itu dulu sebelum direbut orang. dia duduk di tempatnya, tempat saya ditaruh tas. Saya berdiri lagi dan dekati pelayan, bilang mau pesan.

Tapi sekali lagi, dia sibuk, sambil teriak sama orang-orang, “Berapa orang yang mau dibungkus?” serentak kayak anak TK 5-6 orang nunjuk tangan sambil bilang, “Saya, saya!” wah, bukan minta sama pelayan yang tepat nih. Saya pun minta ke pelayan satunya lagi, “Bang, pecel ayam 2, sama kangkung, sama goreng jengkol.” Sama kayak perempuan yang tanya tadi, saya gak mendapat jawaban. Malah dari belakang diteriakin, “Misi mas, jangan diri di situ,” waduh, makin bingung saya.

Hingga akhirnya ada laki-laki berkepala botak yang bersuara sama pelayan. “Yang ngurusin orang makan di sini siapa? Jangan lu semua bungkusin mulu, dibagi buat yang makan di sini.” Saya pun ngomong sama dia. “Mas, saya pesan donk, udah dari tadi gak dilayani.” Akhirnya, ada yang jawab! Mas kepala botak itu: “Iya mas tunggu ya, masnya duduk aja dulu nanti dianterin.” Setelah itu pesanan saya dibuatkan, lalu diantar sendiri oleh mas kepala botak itu. Di situ ada 2 kenikmatan. Kenikmatan pesanan akhirnya dilayani, dan kenikmatan menikmati hidangan itu sendiri.

Lalu, bagaimana dengan hidangannya? Ayam goreng setelah dirasa emang gak ada bedanya dengan ayam di tempat lain, garing kulitnya dan empuk dagingnya. Sambalnya itu loh! Perpaduan terasi dan pedas yang bikin ketagihan. Juga kangkung kering yang oke punya, dan jengkolnya yang menggoda. Pantas kalau warung ini ramai kayak orang antri sembako! Saya pun selesai makan dengan nasi dan lauk yang habis tak tersisa. Saat piring udah ‘bersih’, pelayan ngangkatin piring-piring itu. Saya yakin itu cara halus pelayan untuk ngusir yang udah selesai makan, berhubung udah ada orang lain yang antri tempat duduk.

Saya pun beranjak, teman saya itu minta bungkus jengkolnya, tapi lagi-lagi gak ada respon. Akhirnya saya ambil sendiri plastik dan bungkus sendiri jengkol itu. Setelah itu saya membayar menu saya: 2 buah ayam goreng paha+kangkung, 2 porsi nasi, 1 porsi jengkol, 2 buah air mineral, semuanya 58.000. Harga yang masih cukup normal menurut saya, di Jakarta Pusat ini, dengan menu dan rasa sefenomenal ini.

Yang bertugas melayani pembayaran itu mas botak tadi, sepertinya dia orang yang cukup berwenang di tempat ini. karena dilihat dari postur wajah dan besar tubuhnya, agak beda dibanding pelayan-pelayan lain. Next, kalau lewat tempat ini lagi, saya harus mampir! Karena kalau disengaja, gak mungkin juga, karena rumah saya di Depok dan cukup jauh untuk menuju Tanah Abang.

So far, untuk pelayanan sih saya gak masalah dengan cueknya mereka, karena saya maklumi betapa banyaknya permintaan-permintaan, jadi tak mungkin dilayani semua, akhirnya mereka fokus dulu melakukan yang sedang dikerjakan. So, sambal setan kehidupan malam ini, saya rekomendasikan teman-teman yang ingin berkulineran sekaligus menguji kesabaran!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *