Pengalaman Mengharukan dengan Driver Gojek

pengalaman-mengharukan-dengan-driver-gojek

Hello Gojeker’s…

Mau share apa yang saya alami bulan lalu. Sebenarnya pengalaman ini sudah saya share di grup facebook customer dan driver gojek, tapi baru kali ini saya mau masukin di blog.

Jadi sepulang dari sebuah tempat, saya menemani seorang teman menunggu gojek. Saat itu hujan rintik-rintik. 15 menit kami menunggu. Namun yang terlihat di radar, driver itu semakin jauh. “Coba, ditelepon dulu,” kataku. Dan ternyata berkali-kali nomor HP nya tidak aktif.

“Gimana ni, cancel aja?” Dan akhirnya order dicancel.

Temanku langsung melakukan order baru. Dari fotonya, seorang driver yang masih muda. Kami kembali menunggu di lokasi yang sama. Saat kami menunggu driver muda itu, datanglah seorang bapak-bapak yang sudah beruban menggunakan sepeda motor. Sambil bertanya kepada kami.

“Misi, mesen gojek ya?”

Kami menggeleng tanda bilang tidak. Padahal kami tau, itu adalah driver pertama yang kami cancel. Bapak itu terus bertanya kepada orang di seberang kami duduk, namun jawabannya tidak memesan. Bapak itu kebingungan, dia kembali ke motornya, membuka bagasi dan mengambil kantong plastik berisi HP (dugaan saya dia mengaktifkan HPnya), lalu duduk, terlihat lesu.

Masih terbayang raut wajah bapak itu yang mencari-cari pemesan. Rasa iba, kasihan, bingung, dan rasa bersalah yang amat dalam tercampur jadi satu.

“Gak bisa mesen lagi ya, HP nya dideketin ke bapaknya gitu, biar dapet drivernya bapak itu lagi?” Tanyaku.

“Gak bisa kalau dari deket. Nanti gimana kalau yang baru dipesen ini dateng dan bapak itu masih di sini ngeliat aku naik gojek? Serius gak enak banget sama bapaknya.” Tanya temanku.

“Kita pergi dari sini aja dulu, pesan di tempat lain. Yang anak muda itu cancel aja.”

Dan kami pun pergi, sekitar 500 meter jaraknya.

Sampai di persinggahan baru kami terus teringat akan sang bapak. Penyakit kami berdua (entah apa istilah lain selain penyakit) dapat menampung moment-moment seperti itu di memori dalam jangka waktu yang cukup lama. Berbuat kesalahan dan pihak akibat kesalahan kami menjadi korban di depan mata kami sendiri.

“Dek, berapa nomor HP bapak itu? Mau ngisiin pulsa.”

“Iya nanti aku mau ngisiin juga, biarin dari aku aja.”

“Ya udah, coba pesan lagi. Keburu ujannya nambah gede.”

Temanku mulai memesan, dan hasilnya sungguh tak disangka.

“Bang, yang nerima order bapak itu lagi!”

“Hah, yang bener?” Kami nampak sumringah. Setidaknya bisa mengurangi rasa bersalah kami. Rupanya bapak itu masih duduk (atau menunggu) di tempat sebelumnya.

“Tapi nanti aku jelasin apa ke bapaknya? Tadi di sana geleng kepala bilang gak mesen..”

“Gampang, jelasin aja seadanya. Yang penting akhirnya bisa pake bapak itu.”

Bapak itu datang, hanya senyum dan tidak banyak komentar. Kami yang tidak hentinya menjelaskan dan meminta maaf atas kekhilafan kami. Syukurlah, bapak itu memaklumi. Berangkatlah temanku diantar sang bapak, aku titipkan sedikit tip kepada temanku, dan sekarang ia sudah sampai di tempat tujuannya.

Untuk pengguna ojek aplikasi, sebaiknya dihindari cancel sepihak. Tunggulah beberapa saat lagi jika sudah tak sabar menunggu. Kecuali sudah ada anjuran dari driver agar kita meng-cancel. Kita tidak pernah tau, apa yang telah driver itu korbankan untuk menjemput kita.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *