Kisah Sekawanan Burung dan Induknya

lukisan burung

Di sebuah pohon rindang, sekawanan burung berkerumun mengelilingi induknya yang tengah sakit. Sang induk nampak lemah, butuh perawatan. 7 kawanan burung bermusyawarah, siapakah yang bisa mewakafkan waktunya untuk menjaga dan merawat sang induk agar pulih kembali?

Burung B: Kamu saja ya yang jaga?

Burung C: Tidak bisa, sedari pagi hingga malam aku mencari pakan untuk keluargaku.

Burung D, F, G: Aku juga tidak bisa.. sarangku kan jauh dari sini.. aku juga.. aku juga..”

Burung E: Bagaimana kalau si sulung itu saja yang menjaga induk kita? Dia kan tidak akan aktivitas mencari pakan..”

Burung C: Benar juga sih, dia pasti mau kalau kita minta untuk berbakti kepada orangtuanya sendiri.

Burung D: Tapi kan dia kakak tertua kita? Usianya juga sudah tua dan sering sakit.. Masa kita tega meminta kakak sulung kita, yang sering membantu kita ketika kecil, berlelah dan bersusah payah merawat induk kita?

Burung G: Iya.. di mana rasa terima kasih kita? Kita yang masih cukup muda masa tidak bisa membagi waktu untuk menjaga induk kita?

Burung C: Pengennya sih gitu.. tapi kan sarang kita saling berjauhan dengan induk kita. Bagaimana caranya membagi waktu?

Sementara itu, Burung A, si sulung yang tengah menjadi perbincangan adik-adiknya nampak pasrah. Memang tidak ada rasa keberatan sedikitpun untuk menjaga sang induk, meski ia sendiri tubuhnya mulai rapuh, rambutnya mulai memutih, dan kulitnya mulai keriput.

————————————————————————————————–

Sementara itu, di pohon yang jauh dari sana, sekawanan burung juga tengah berbincang. Tak lain adalah anak-anak dari Burung A.

“Lihatlah mereka, saudaraku. Mereka saling melempar tanggung jawab siapa yang akan menjaga induknya, sementara kita di sini saling berebut mempengaruhi induk kita agar ia berkenan tinggal bersama salah satu di antara kita..” ungkap salah satu burung yang paling tua kepada adik-adiknya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *