Fajar di Suatu Pagi

Fajar di Suatu Pagi

Tak ada yang berbeda dari suasana pada hari itu. Wulan telah bangun pagi seperti biasa. Namun pagi itu, dia tidak langsung beraktivitas membantu ibunya. Wajahnya terlihat murung, pikirannya entah ke mana. Entah hal apa yang membuatnya nampak demikian. Sang ibu yang keheranan atas perbedaan yang dialami anaknya pun bertanya:

“Kurang enak badan toh, Ndok?”

“Ndak, bu. Cuma pusing sedikit saja, mungkin kecapekan karena ospek beberapa hari ini.”

“Ya sudah, kalau begitu hari ini kamu ndak usah bantu ibu bikin kue dulu. Silakan kamu istirahat atau bermain di kebun belakang rumah. Bagaimanapun kamu butuh refreshing, wong hampir satu minggu kamu dikerjain sama kakak panitia kamu.”

“Inggih, bu.”

Wulan adalah seorang gadis yang cukup cantik jelita di suatu desa. Ia terkenal cuek, apalagi jika sudah berhadapan dengan lelaki. Jangan harap sang lelaki bisa ngobrol ngalor ngidul dengannya. Ibunya berprofesi sebagai penjual kue. Bersama adiknya, tiap pagi ia membantu ibunya mengolah adonan dari bahan mentah menjadi bahan jadi yang siap dijual ke pasar. Hal itu rutin ia lakukan sebelum berangkat ke sekolah. Ia mengantar kue buatan ibunya ke warung-warung sekitar rumah, sebelum akhirnya ia melanjutkan perjalanannya menuju sekolah. Hasil usaha ibunya tak seberapa besarnya. Keadaan mengharuskan ia belajar dan berusaha lebih keras dari orang kebanyakan, sehingga mampu mengantarkannya ke perguruan tinggi melalui jalur beasiswa.

Meski beberapa hari ini ia sibuk dengan ospeknya, namun tak mengendurkan semangatnya untuk membantu ibunya. Ayahnya yang telah tiada, membuatnya tak punya pilihan selain mengabdikan diri sepenuhnya kepada sang Ibu. Sang Ibu sendiri pun menangkap ketidakberesan terhadap kesehatan anaknya, sehingga ibunya mempersilakan Wulan untuk istirahat. Fajar baru saja terbit, Wulan sudah menyusuri jalan yang diapit pematang sawah, sambil melihat anak-anak, pemuda-pemudi, juga para orang tua yang berjalan santai di atas aspal yang berembun. Pikirannya menerawang ke hari kemarin, mengingat kejadian yang sulit ia lupakan. Namun secepat itu pula pikirannya ditampik: “Aku tidak boleh terjerat cinta,” gumamnya dalam hati.

Dua hari sebelumnya, ia terlambat datang ke kampus. Karena pada hari itu banyak pesanan kue yang harus diantarnya ke beberapa tempat. Tak ayal, ia menjadi bulan-bulanan para senior. Seorang senior yang berpostur tinggi besar langsung menghardik ketika ia baru saja tiba dan memberi penjelasan mengapa ia terlambat.

“Lo mau jualan kek, mau macul kek, gua nggak peduli. Lo pikir kampus ini punya lo? Gimana pas kuliah mau disiplin kalau sekarang aja lo udah ngaret begitu lama?” bentak sang senior.

“Maaf, Mas. Saya ndak bisa menyuruh mereka untuk datang sendiri mengambil kuenya. Jadi mau ndak mau saya yang harus mengantar satu per satu.” Wulan memelas dengan logat Jawanya.

“Segala pake curhat lo! emangnya gue bokap lo? Atau facebook? Yang bisa sebagai tempat lo meratap? Oke, gue maafin. Sebagai hukuman, lo kelilingin ini kampus sambil bergaya lo lagi jualan kue di depan orang-orang. cepetan!”

Wulan sangat terkejut dengan apa yang dikatakan kakak seniornya. Namun ia tak dapat berbuat apa-apa selain berlalu pergi dan menuruti perintah.

“seperti ini kah dunia kampus? belum jadi apa-apa saja sudah sok berkuasa,” kesalnya dalam hati.

Dia memulai pekerjaannya dari sudut utara lapangan, berjalan menyusuri lorong, menawarkan dagangannya kepada siapapun yang dia temui. bedanya kali ini, ia berdagang tanpa memiliki barang dagangan. Para mahasiswa dan semua orang di kampus pun memahami bahwa ia sedang dalam permainan para senior. Wulan sendiri pun tidak menikmati hal itu. Apa lagi respons para mahasiswa yang terus mengejeknya.

“Lo dagang apaan? Kue? Mana dagangannya?”

Wulan tak menjawab apa-apa. Dia terus berjalan dan menawarkan kepada orang berikutnya yang dia temui. Pun jawabannya sama seperti itu, dia tidak peduli. Yang penting tugasnya mengelilingi kampus sesuai permintaan seniornya.

Tiba di depan gedung perpustakaan, di bawah pohon yang rindang, dia terperanjat ketika seorang lelaki tiba-tiba berbicara:

“Kekuasaan memang membuat orang lupa siapa dia. Namun orang yang berkuasa juga tidak akan lupa bahwa dia dididik dengan cara dikuasai.”

Kalimat demi kalimat yang mengalir dari mulut pemuda itu membuat Wulan semakin bingung. Mata pemuda itu terlihat sedang membaca buku, tapi apa yang dikatakannya sangat sesuai dengan apa yang ia pikirkan: senior yang berkuasa.

Pemuda itu melanjutkan: “Yang kuat dia lah yang menang. Oleh karenanya, kalau mau aman, dia harus siap bertahan. Kumpulkan kekuatan, hingga sampai saatnya nanti bisa merebut kekuasaan.”

Tak disangka pemuda itu menutup bukunya dan menatap Wulan dengan dingin:

“Nama gue Fajar, mahasiswa Ilmu Budaya semester 7. Si Hendra emang lagi punya kuasa, karena dia Ketua Pelaksana Ospek. Tapi sesaat lagi dia bukan apa-apa. Lo pun ga harus menuruti semua yang dia minta. Karena dia ga bakal sampe macem-macem. Kalau itu sampe terjadi, dekan yang akan bergerak nanganin dia. Gue emang bukan aktivis seperti mereka-mereka. Tapi gue tau segala hal yang ada di kampus ini. Ya udah, sekarang, dari pada lo muter-muter ga jelas kaya gini, mending lo ikut gue ke perpus. Ayo.”

Sulit bagi Wulan menerima ajakan Fajar, terlebih dia adalah seseorang yang tidak mudah dekat dengan laki-laki. Namun karena situasi saat itu tidak mengenakkannya, dan kata-kata yang terlontar dari mulut Fajar cukup menenangkan, dia lebih baik meninggalkan hukuman dari senior yang amat dibencinya.

Mereka berdua akhirnya memasuki perpustakaan. Keduanya berbincang-bincang di ruang diskusi. Banyak yang ingin Wulan tanyakan. Namun harga dirinya terlalu tinggi untuk banyak bertanya kepada orang yang baru dikenalnya. Fajar, sebagai seorang senior yang sudah cukup lama ‘menghuni’ kampus, menyadari bahwa seharusnya dia lah yang lebih dulu memulai pembicaraan.

“Dunia kampus bukan zamannya SMA. Yang mana ga setiap perkataan yang lebih tua harus lo turuti semua.”

“Mengapa?” Wulan memberanikan diri untuk bertanya.

“Kampus ini dunianya perang pemikiran. Yang mengharuskan lo mengadu pemikiran lo, entah itu sama dosen sekali pun. Patahkan teori-teorinya kalau lo mampu. Asal, dengan data-data yang kuat dan akurat. Inilah yang namanya demokrasi yang sebenarnya, lo bebas berkreasi apa pun. Di dalam kelas, lo bisa belajar dan tukar pikiran sama dosen. Di luar kelas, lo bisa mengajukan protes, petisi, demo, atau apapun yang sekiranya ada ketidakadilan. Semua dibolehkan. Sendiri kita mengkaji, berdua kita diskusi, bertiga kita aksi. Lo pernah mikir ga? Manfaat dari demo-demo yang lo liat di TV?”

“Ndak,” jawab Wulan singkat, sambil terus menyimak.

“Itu adalah bentuk penggambaran opini kepada masyarakat. orang boleh bilang demonstrasi di jalan tidak akan merubah keadaan. Tapi kita bisa memberi gambaran bahwa wajah pemerintah memang demikian. Belum ada keadilan di semua lini. Distribusi kekayaan negara tidak berjalan. Itulah yang bisa kami berikan buat masyarakat, yang nantinya kita harap partisipasi dari masyarakat itu untuk aksi lanjutan dengan massa yang lebih besar.”

Jam demi jam berlalu, mereka berdua begitu asyiknya berbincang. Meski Wulan lebih banyak mendengar, Fajar tidak keberatan untuk terus berbicara, karena Wulan sendiri memang terkesan. Apa yang diucapkan oleh Fajar seakan menjadi bekal awal untuknya menjajaki dunia kampus.

Hari semakin siang, tak terasa ia telah meninggalkan kegiatan yang menjadi kewajibannya. Ia pun pamit kepada Fajar dan kembali ke tempat ospek. Hukuman apapun telah siap ia terima, karena petuah-petuah yang Fajar berikan cukup memberi kekuatan mental baginya.

Terbitnya matahari membuyarkan lamunan Wulan atas kejadian beberapa hari yang lalu. Hati kecilnya berharap dapat kembali bertemu Fajar yang telah mengajarkannya banyak hal. Sepulang dari pematang sawah, ia memutuskan untuk menonton TV sejenak sebelum berangkat ke kampus. Terkejut ia ketika melihat tayangan berita yang mewartakan tewasnya seorang mahasiswa yang fotonya sangat mirip dengan Fajar akibat bentrok dengan aparat dalam sebuah aksi menuntut keadilan di depan kantor gubernur. Hatinya semakin tersentak, ketika reporter berita itu menyebutkan nama, fakultas, dan universitas di mana mahasiswa itu berkuliah. Kedukaan mendalam tiba-tiba memayungi relung jiwanya. Namun ia tak bereaksi apa-apa. Hingga air mata mengalir deras membasahi pipinya, lalu menggumam. “Fajar akan terus terbit. Seperti pagi-pagi sebelumnya.”

 

*Cerpen pernah dimuat di Tabloid LPM Institut UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Edisi Mei 2013

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *